Cara Menambahkan Tombol Minimize dan Maximize di Debian 8 Jessie

Hallo sobat TI.NET, apa kabar.??? Pada kesempatan sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana cara mengupgrade ke Debian 8 Jessie. Jika kamu ingin melihatnya bisa buka link berikut ini http://www.teknikinformatika.net/2015/05/14/upgrade-debian-wheezy-ke-jessie/. Salah satu permasalahan dari Debian 8 Jessie, secara default setiap jendela aplikasi tidak disertai dengan tombol maximize dan minimize bukan.??? Nah, maka dari itu penulis akan membahas cara menampilkan tombol minimize dan maximis di Debian 8 Jessie.

Tanpa panjang lebar lagi berikut adalah langkah-langkahnya:

Main Menu > System Tools > dconf Editor

atau

$ sudo dconf-editor

Setelah jendela dconf Editor terbuka masuk tab berikut:

org > desktop > wm > preferences > button-layout

Secara default button-layout berisi appmenu:close ganti menjadi appmenu:minimize,maximize,close. Selesai sampai disini semoga bermanfaat dan berhasil. Salam TI.NET ^.^.

Simulasi Jaringan dengan Virtualbox

Hi, sobat TI.NET apa kabar.? Sudah lama rasanya penulis tidak menyapa, gimana ada yang kangen.? Hehehehe. Sesuai judul, pada kesempatan kali ini penulis akan berbagi trik melakukan simulasi jaringan atau bisa juga dikatakan miniatur jaringan dengan menggunakan Virtualbox. Lho koq Virtualbox.? Mungkin sebagian diantara kamu ada yang bertanya-tanya seperti itu, lantaran seperti yang diketahui secara umum jika kegunaan vital dari Virtualbox adalah untuk menjalankan sebuah sistem operasi. Berkemabang dari situ, Virtualbox juga dilengkapi dengan kartu jaringan yang dapat kita gunakan sebagai media untuk membangun sebuah jaringan. Kini Virtualbox juga sudah dapat dijalankan di sistem operasi Linux dan Windows, kelebihan Virtualbox dengan software simulasi sejenis yang lainnya yang penulis rasakan adalah dari segi programnya yang ringan, tidak banyak memakan space memori dan prosesor.

Bayangkan kamu memasang lebih dari 2 sistem operasi di Virtualbox, misalnya penulis 4 (CentOS, Debian, RouterOS, dan Windows) dan setiap sistem operasi tersebut saling terhubung, dengan berbekal konsep pembagian IP Address tentu kamu akan mendapatkan tempat kerja virtual untuk sebuah jaringan yang ingin kamu pelajari dan kembangkan. Hemat tempat, bahan dan alat, biaya, waktu dan lainnya tentu akan kamu dapatkan, bagaimana bisa.? Pertama tempat, biasanya praktikan memerlukan ruangan setidaknya 3×3 m2 untuk menyimpan beberapa komputer untuk simulasi jaringan, sedangkan dengan Virtualbox.? Kamu tentu tahu sendiri jawabannya. Kedua bahan dan alat, kamu tidak perlu memberli yang namanya kabel LAN beserta konektornya, HUB, pemasangan jaringan dll, karena pengaturan untuk media koneksi sudah dapat kamu dapatkan dalam Virtualbox ini, dan yang perlu kamu lakukan adalah pengaturan IP Address yang sesuai untuk dapat menghubungkan antar komputer. Ketiga biaya, Virtualbox gratis sobat TI.NET.

Mungkin hanya itu konsep yang dapat penulis berikan pada kesempatan kali ini. Kesimpulannya, dengan menggunakan Virtualbox kita dapat membuat labolatorium jaringan sendiri yang bisa gunakan untuk belajar, uji coba pengaturan antar server-client, dan berbagai simulasi jaringan lainnya. Bocoran untuk artikel berikutnya sudah penulis tulis di bagian sistem operasi yang penulis pasang di Virtualbox (CentOS, Debian, Windows, dan RouterOS) yang penulis gunakan untuk melakukan simulasi jaringan. Sekian, terima kasih dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan atas apa yang penulis tuturkan. Salam TI.NET ^_^

Apa itu Windows.old

Mungkin diantara kamu ada yang di Local Disk atau System Drive (C:)nya sebuah folder yang namanya Windows.old.??? Apa itu Windows.old.??? Koq ukurannya besar yah, hingga sampai 1 GB lebih.??? Mungkin pertanyaan tersebut akan terlontar dibenak kamu yang belum mengetahui apa itu Windows.old.

Jadi apa itu Windows.old.??? Windows.old (berupa folder) akan muncul atau terbentuk secara otomatis atau dengan dirinya ketika misalnya saat ini kamu menggunakan Windows 7 dan sebelumnya telah terinstall Windows XP dan kamu tidak memformat Local Disk atau System Disk (C:)nya. Pada saat proses installasi akan ada suatu tahap yang menjelaskan jika proses installasi dilanjutkan maka sistem Windows yang sebelumnya (Windows XP untuk Windows 7 dan Windows 7 untuk Windows 8, dan begitu seterusnya) akan tersimpan secara otomatis di Local Disk atau System Drive (C:). Namun hal tersebut tidak akan terjadi jika kamu melakukan format di Local Disk (C:)nya, guna dari adanya Windows.old ini adalah untuk menyimpan semua data yang ada di Drive (C:). Tentu ini sangat dibutuhkan sebagai backup yang tidak repot sama sekali.

Intinya Windows.old akan terbentuk jika versi dari Windows yang sekarang kamu gunakan lebih baru dari versi sebelumnya, sebelum kamu install ulang. Sekali lagi penulis tegaskan jika Windows.old tidak akan terbentuk jika kamu memformati habis Local Disk (C:) tempat kamu menaruh Dirve untuk installasi sistem Windows sebelumnya.???

Jadi sekarang sudah pahamkan apa itu Windows.old.??? Tahu seberapa penting Windows.old bagi kita.??? Semoga artikel pada kesempatan kali ini berguna untuk sobat TI.NET sekalian. Mohon maaf apabila terdapat salah-salah kata yang kurang berkenan. Salam TI.NET ^_^

 

Dual Boot Linux – Windows, Awas Salah Partisi

Hi, sobat TI.NET apa kabar.??? Kali ini penulis akan sedikit berbagi pengalaman tentang Dual Boot antara Linux dengan Windows. Jadi ceritanya gini sobat, waktu kemarin hari Rabu 05/03/2014 penulis mengunduh salah satu sistem operasi Linux turunan dari sistem Debian, yakni Kali Linux yang rilis tahun lalu. Penulis memiliki dua buah hardisk didalam CPU, yang satu berisi Linux Debian dengan kapasitas harddisk yang kecil kemudian yang kedua harddisk dengan kapasitas 320GB, dan itu tidak terpakai semua, lebih dari 50GB penulis sengaja kosongkan untuk menginstall Kali Linux tadi.

Sehingga partisi yang terlihat ketika membuka OS Windows adalah Local Disk (C:), Local Disk (D:) berisi bahan dan data penting, Local Disk (E:) berisi semua hal yang menyangkut hiburan atau entertainment seperti video, music, game, foto dll, dan yang terakhir partisi kosong (unlocatted). Kebetulan ukuran antara Local Disk (E:) dan partisi yang kosong hampir sama perbandingannya kurang lebih hanya sekitar 3GB.

Setelah semuanya siap penulis mulai beraksi dengan melakukan booting lewat CD/DVD Drive, masuk opsi penginstallan Kali Linux (tidak asing karena sama dengan Debian), semua langkah installasi berjalan lancar hingga  berakhir pada pemilihat partisi untuk sistem Kali Linuxnya, saat itu jujur penulis lupa berapa ukuran pastinya dari partisi yang kosong, dan kala itu penulis melihat ada partisi yang kosong dan berada paling bawah, ya penulis langsung tancap gas hajar deh tuh partisi. Dan setelah installasi selesai, masuk ke sistem Kali Linux penulis melihat ada tiga partisi yang terlihat selain partisi Kali Linux (partisi Windows akan terlihat di sistem Linux dan tidak berlaku sebaliknya), saat itulah penulis baru menyadari jika yang penulis gunakan adalah partisi di Local Disk (E:) yang berisi file-file hiburan.

Lemas yang terasa kala itu, karena sudah banyak kenangan yang tersimpan di Local Disk (E:) tersebut, diantaranya foto-foto keluarga yang sangat bikin ngenes. Pengen nangis jadinya kala itu dan langsung tepok jidat. Semua kenangan berupa foto dan video kini hilang hanya dalam hitungan menit, terutama foto-foto keluarga yang sangat penulis sayangkan. Perasaan menyesal dan kesal tak bisa diungkapkan hanya lewat kata atau tindakan kala itu. Jujur itu merupakan sebuah kecerobohan yang merubah semuanya.

“Nasi Sudah Jadi Bubur” adalah pribahasa yang terngiang ditelingan, penulis terus berfikir dan yakin jika data yang ada didalamnya tidak bisa dikembalikan. Yo wiss lah, apa boleh buat penulis lanjutkan saja dengan menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran berharga. Akhirnya penulis satukan antara partisi yang kosong tadi dengan sistem Kali Linuxnya karena sayang juga tidak terpakai. Dan kini penulis punya media penyimpanan untuk OS Kali Linux dua kali lebih besar dari sebelumnya, mungkin itu positifnya.

Hal bisa diambil, kalo boleh penulis tuliskan adalah bagi kamu yang bermaksud untuk melakukan Dual Boot entah itu Windows – Windows atau Windows – Linux penulis sarankan (bukan bermaksud menggurui) untuk hati-hati dalam melakukan partisi, apalagi jika data-data dalam harddisk yang akan dipartisi sangatlah penting bagi kehidupan kamu.

Mungkin hanya itu saja pengalaman yang bisa penulis sampaikan untuk pagi yang cerah ini, semoga bisa diambil manfaatnya. Salam TI.NET ^_^

Mengatasi Tidak Bisa Copy-Paste di Windows

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Kali ini penulis akan sedikit berbagi dan sharing pengalaman yang baru saja penulis alami. Ada teman kuliah penulis  yang mengalami masalah dengan laptopnya yang bersistem operasikan Windows 7, dimana laptopnya itu tidak bisa melakukan copy-paste. Setelah penulis cek dan sedikit  mencari-cari apa itu penyebabnya ternyata adalah adanya sebuah softare yang error, apa software tersebut.??? Silakan simak pembahasannya dibawah ini. Continue reading

Setting IP Address di Windows

Sebelum kita terkoneksi ke dalam sebuah jaringan perlu adanya settingan terlebih dahulu antar setiap komputer yang dihubungkan ke jaringan tersebut. Apakah akan diatur untuk static IP Address atau dinamik IP Address (DHCP). Itu semua tergantung pada kebutuhan yang bersangkutan. Jika memang ada server khusus untuk pengelola IP Address maka hanya butuh koneksi dengan settingan DHCP. Namun jika tidak (peer-to-peer) kamu perlu melakukan penyetingan static IP Address di setiap komputer. Continue reading

Install VideoLAN (VLC) di Debian

VideoLAN atau sering disebut sebagai VLC Video Player adalah sebuah aplikasi untuk menampilkan video yang diputar pada sebuah komputer. Aplikasi yang satu ini termasuk aplikasi yang paling banyak digunakan baik oleh pengguna Linux maupun Windows karena tampilannya yang interaktif. Dalam artikel kali ini penulis akan berbagi tentang bagamana menginstall VLC di sistem operasi Debian. Untuk itu simak langkah-langkahnya berikut ini: Continue reading

Install Google Chrome di Debian

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Kali ini penulis akan berbagi tentang bagaimana menginstall aplikasi peramban web atau web browser Google Chrome di Debian. Tentu kamu sudah tahu bukan aplikasi peramban web yang sangat terkenal ini.??? Yups, aplikasi yang satu ini merupakan aplikasi peramban web terbaik versi Top10Reviews, mungkin hampir disetiap komputer dipasang peramban ini, karena permaban yang satu ini bisa dipasang di sistem operasi apa saja, mulai dari Linux, Windows hingga Mac OS. Berikut adalah langkah-langkah yang meski kamu ikuti untuk bisa memasang Google Chrome di Linux, khususnya Debian: Continue reading

Installasi Software lebih Mudah di Linux

Mungkin kamu beralasan mengapa lebih memilih sistem operasi Windows ketimbang Linux adalah karena salah satunya Windows sangat mudah menginstall software-softwarenya, hanya dengan sekali dua kali klik akan sudah bisa menginstall sebuah software sedangkan di Linux lebih sulit dan ribet karena meski memasukan perintah satu demi satu di terminal/konsole. Namun dalam artikel kali ini penulis akan membantah semua itu, siapa bila menginstall software di Linux sulit dan meski lewat terminal.??? Seiring dengan kemajuan zaman kini Linux versi desktop juga melengkapi fasilitas untuk installasi sebuah software hanya dengan sekali atau dua kali klik saja yang tentunya sangat diharapkan oleh para Linuxers untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan. Continue reading

Disk Defragmenter di Windows

Disk Defragmenter merupakan utilitas Windows yang dirancang untuk meningkatkan akses dengan melakukan penataan ulang data yang berada pada harddisk. Disk Defragmenter juga sering disebut sebagai utilitas yang mampu menyusun data-data yang tersimpan di dalam harddisk, dengan tersusunnya data-data tersebut diharapkan akan mampu mengurangi waktu untuk melakukan pembacaan data-data yang ada pada harddisk tersebut sehingga pada nantinya akses data akan lebih cepat. Continue reading