Dual Boot Linux – Windows, Awas Salah Partisi

Hi, sobat TI.NET apa kabar.??? Kali ini penulis akan sedikit berbagi pengalaman tentang Dual Boot antara Linux dengan Windows. Jadi ceritanya gini sobat, waktu kemarin hari Rabu 05/03/2014 penulis mengunduh salah satu sistem operasi Linux turunan dari sistem Debian, yakni Kali Linux yang rilis tahun lalu. Penulis memiliki dua buah hardisk didalam CPU, yang satu berisi Linux Debian dengan kapasitas harddisk yang kecil kemudian yang kedua harddisk dengan kapasitas 320GB, dan itu tidak terpakai semua, lebih dari 50GB penulis sengaja kosongkan untuk menginstall Kali Linux tadi.

Sehingga partisi yang terlihat ketika membuka OS Windows adalah Local Disk (C:), Local Disk (D:) berisi bahan dan data penting, Local Disk (E:) berisi semua hal yang menyangkut hiburan atau entertainment seperti video, music, game, foto dll, dan yang terakhir partisi kosong (unlocatted). Kebetulan ukuran antara Local Disk (E:) dan partisi yang kosong hampir sama perbandingannya kurang lebih hanya sekitar 3GB.

Setelah semuanya siap penulis mulai beraksi dengan melakukan booting lewat CD/DVD Drive, masuk opsi penginstallan Kali Linux (tidak asing karena sama dengan Debian), semua langkah installasi berjalan lancar hingga  berakhir pada pemilihat partisi untuk sistem Kali Linuxnya, saat itu jujur penulis lupa berapa ukuran pastinya dari partisi yang kosong, dan kala itu penulis melihat ada partisi yang kosong dan berada paling bawah, ya penulis langsung tancap gas hajar deh tuh partisi. Dan setelah installasi selesai, masuk ke sistem Kali Linux penulis melihat ada tiga partisi yang terlihat selain partisi Kali Linux (partisi Windows akan terlihat di sistem Linux dan tidak berlaku sebaliknya), saat itulah penulis baru menyadari jika yang penulis gunakan adalah partisi di Local Disk (E:) yang berisi file-file hiburan.

Lemas yang terasa kala itu, karena sudah banyak kenangan yang tersimpan di Local Disk (E:) tersebut, diantaranya foto-foto keluarga yang sangat bikin ngenes. Pengen nangis jadinya kala itu dan langsung tepok jidat. Semua kenangan berupa foto dan video kini hilang hanya dalam hitungan menit, terutama foto-foto keluarga yang sangat penulis sayangkan. Perasaan menyesal dan kesal tak bisa diungkapkan hanya lewat kata atau tindakan kala itu. Jujur itu merupakan sebuah kecerobohan yang merubah semuanya.

“Nasi Sudah Jadi Bubur” adalah pribahasa yang terngiang ditelingan, penulis terus berfikir dan yakin jika data yang ada didalamnya tidak bisa dikembalikan. Yo wiss lah, apa boleh buat penulis lanjutkan saja dengan menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran berharga. Akhirnya penulis satukan antara partisi yang kosong tadi dengan sistem Kali Linuxnya karena sayang juga tidak terpakai. Dan kini penulis punya media penyimpanan untuk OS Kali Linux dua kali lebih besar dari sebelumnya, mungkin itu positifnya.

Hal bisa diambil, kalo boleh penulis tuliskan adalah bagi kamu yang bermaksud untuk melakukan Dual Boot entah itu Windows – Windows atau Windows – Linux penulis sarankan (bukan bermaksud menggurui) untuk hati-hati dalam melakukan partisi, apalagi jika data-data dalam harddisk yang akan dipartisi sangatlah penting bagi kehidupan kamu.

Mungkin hanya itu saja pengalaman yang bisa penulis sampaikan untuk pagi yang cerah ini, semoga bisa diambil manfaatnya. Salam TI.NET ^_^