Verifikasi SHA1 dan MD5 Checksum di Windows

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Sudah lama ya penulis tidak nge-blog dan bikin tulisan-tulisan tentang informatika. Gimana pada kangen ga sama penulis 😀 hehe. Iyaa, dikarenakan kesibukan penulis dalam mencari ilmu rasanya baru kali ini bisa meluangkan waktu untuk nge-blog lagi nih (so sibuk. ..). Ok langsung aja, kali ini penulis akan bahas mengenai Verifikasi SHA1 dan MD5 Checksum di Windows, sebelumnya penulis pernah membuat artikel yang berjudul Verifikasi SHA1 dan MD5 Checksum di Linux. Nah untuk mengetahui lebih jelasnya apa itu SHA1 dan MD5 kamu bisa langsung aja liat penjabarannya pada artikel penulis yang berjudul Pentingnya Melakukan Verifikasi SHA1 dan MD5 Checksum di Linux. Continue reading

Pentingnya Melakukan Verifikasi SHA1 dan MD5 Checksum di Linux

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Sudah beberapa hari penulis tidak menulis artikel nih pada kangen kah.??? 😀 Pada kesempatan kali ini penulis akan bahas mengenai hash sha1sum dan md5sum di Linux. Apa itu sha1sum dan md5sum.??? Didalam sebuah sistem operasi UNIX terdapat sistem yang dapat melakukan enkripsi demi menunjang keamanan sistem tersebut, salah satu dari banyak metode enkripsi tersebut adalah SHA1 dan MD5. Kedua contoh tersebut merupakan kriptografi modern yang paling eksis dan banyak digunakan karena tingkat keamanannya yang sangat baik. Dengan menggunakan sha1sum dan md5sum kita dapat melakukan perhitungan dan verifikasi sebuah hash SHA1 dan MD5 gunanya adalah ketika seorang berkirim sebuah file dengan orang lain maka orang yang menerima file akan segera mengetahui jika file itu memang asli dari orang yang mengirimnya ke dia langsung atau ada pihak ketiga yang mengubah isi file tersebut. Tentu ini merupakan suatu hal yang sangat penting jika melihat file seperti apa yang hendak dikirim.

Cara melakukan keamanan dengan menggunakan hash SHA1 dan MD5 adalah dengan membuat hash identitas untuk file yang akan dikirim, kemudian si pengirim memberi tahu si penerima hash tersebut (entah itu SHA1 atau MD5), setelah hash tersebut diketahui oleh si penerima maka ia lakukan verifikasi dengan sha1sum (untuk hash SHA1) atau md5sum (untuk hash MD5) terhadap file yang bersangkutan. Jika kode hash berbeda dengan kode hash file tersebut maka dapat dikatakan jika file sudah terkontaminasi atau sudah ada pihak ketiga yang merubah isinya. Pada umumnya hash SHA1 dan MD5 Checksum tidak harus selalu bersifat privasi dalam artian ada pihak yang memang menginginkan sebuah file dapat tersebar secara luas dengan publik mengetahui bahwa file tersebut asli dari dia yang mengirim. Sebagai contoh, ketika kita hendak mengunduh sebuah software atau sistem di internet kita disuguhkan dengan SHA1 Checksum atau MD5 Checksum, terkadang bahkan sering kita tidak melakukan verifikasi terhadap hash tersebut, setelah mengunduhnya lalu kita buka dan jalankan. Bagaimana kita tahu bahwa software atau file tersebut memang asli dari pihak yang mengunduhnya.??? Artinya bisa saja ketika kita mengunduh software atau file tersebut ada seseorang yang melakukan sabotase ke koneksi internet kita dan ketika kita mengunduh sebuah software atau file walaupun kelihatannya kita mengunduh disitus yang resmi padahal file yang kita unduh sudah disabotase. Itulah fungsi dari verifikasi SHA1 Checksum dan MD5 Checksum, untuk meyakinkan kita jika software atau file yang kita terima benar-benar asli. Sebagai contoh, penulis akan mengunduh sebuah sistem katakanlah IPFire pada alamat http://downloads.ipfire.org/latest. Kemudian setelah penulis mengunduhnya penulis lakukan verifikasi terhadap SHA1 Checksum sistem tersebut. Kode SHA1 Checksum yang dimaksud adalah seperti yang ditunjukan gambar dibawah ini (yang diberi tanda garis merah).

SHA1 checksum

Kebetulan dari pihak IPFire membuat hash SHA1, maka kita juga akan melakukan verifikasi dengan sha1sum. Bagaimana caranya.??? Mula-mula setelah kita mengunduh sistem ipfire-2.17.i586-full-core87.iso tersebut, di terminal kita masuk ke direktori dimana file tersebut disimpan setelah terunduh kemudian masukan perintah berikut ini diterminal untuk melakukan verifikasi. Sebelum itu, perlu dicatat jika hash file tersebut adalah 91d95a969141197c12e508bc5b20980f2278545b. Dengan hash inilah kita akan memverifikasi keaslian dari file yang kita unduh.

$ echo "91d95a969141197c12e508bc5b20980f2278545b ipfire-2.17.i586-full-core87.iso" | sha1sum -c -
ipfire-2.17.i586-full-core87.iso: OK

Dengan melihat hasil dari perhitungan dan verifikasi diatas kita dapat mengetahui jika file yang telah kita unduh tersebut memang file asli dari pemiliki situs IPFire. Kemudian bagaimana contoh jika file tersbut sudah dikontaminasi atau dimasukan sesuatu (virus misalnya).??? Berikut penulis sedikit menambahkan file kedalam file ipfire-2.17.i586-full-core87.iso kemudian penulis simpan, hal ini sebagai sebuah ilustrasi untuk memanipulasi file ipfire-2.17.i586-full-core87.iso yang asli. Kita lakukan hal yang sama yakni melakukan perhitungan dan verifikasi dengan menggunakan sha1sum dan hasil yang akan didapat adalah sebagai berikut:

$ echo "91d95a969141197c12e508bc5b20980f2278545b ipfire-2.17.i586-full-core87.iso" | sha1sum -c -
ipfire-2.17.i586-full-core87.iso: FAILED
sha1sum: WARNING: 1 computed checksum did NOT match

Mengapa hal tersebut dapat terjadi.??? Contoh diatas menunjukan jika file ipfire-2.17.i586-full-core87.iso adalah file palsu yang sudah dikontaminasi oleh pihak ketiga, hal ini ditunjukan dengan ketika kita hendak melakukan verifikasi terdapat perhitungan checksum yang tidak sesuai. Hal ini terjadi karena dalam setiap perubahan file, penambahan atau pengurangan, sistem UNIX akan melakukan perhitungan terhadap file tersebut kemudian membuat sebuah hash secara otomatis, sehingga hasil yang akan dikeluarkan akan berbeda dari mana file tersebut dibuat yang artinya satu file memiliki satu hash dan tidak tidak akan sama antara satu file dengan file yang lainnya kecuali dibuat di komputer, sistem, nama, dan isi yang sama. Well, jadi apakah penting melakukan verifikasi terhadap file yang kita unduh.??? Yups, mungkin secara personal hal ini tidak begitu penting, tapi bagaimana dengan jika kita berada diinstansi bisnis atau pemerintahan.??? Tentu ini akan menjadi sangat penting guna menjaga keaslian dari penerimaan dan pengiriman sebuah dokumen.

Sekian dari penulis semoga tulisannya bermanfaat dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan dalam proses penulisan. Penulis adalah pemula maka kritik dan saran adalah umpan balik yang baik bagi penulis demi menyempurnakan setiap tulisan. Sekian dari penulis dan salam TI.NET ^_^.

Simple Scan di Linux

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Di siang hari nan cerah ini (wilayah penulis) penulis akan coba ngasih tutorial betapa mudahnya mengoperasikan pemindaian hardfile (kerennya scanisasi) di Linux dengan menggunakan fasilitas Simple Scan yang kebetulan sudah include di Ubuntu, jika pada Linux yang kamu gunakan belum terinstall silakan kamu pasang terlebih dulu dan itu hal mudah bukan (tentunya).

Sebelum masuk ke tahap pemindaian (scanning), alangkah baiknya kamu pastikan jika scanner (alat pemindai) sudah dikenali di komputer yang kamu gunakan, pada umumnya beberapa merk scanner ternama seperti HP, CANON, EPSON, dan sebagainya sudah include di Linux Ubuntu, namun itu hanya beberapa serinya saja. Namun tidak usah khawatir jika scanner yang kamu gunakan tidak terdaftar di Linux yang kamu gunakan, kamu hanya tinggal mencarinya di internet.

Jika kamu tidak memiliki masalah mengenai pengenalan hardware scanner ke komputer (pemasangan driver), tahap selanjutnya pastikan tidak ada masalah antara scanner yang digunakan dengan komputer kamu. Selanjutnya buka aplikasi atau software Simple Scan, kurang lebih tampilan pada Linux Ubuntu seperti gamabar dibawah ini:

simple scan
Setelah itu masukan hardfile atau kertas yang berisi objek yang ingin kamu pindai pada scanner serta pastikan pula dalam posisi yang benar/tidak melebihi batas supaya objek yang akan dipindai dapat dipindai secara menyeluruh.

scanning

Tahap berikutnya adalah scanning (pemindaian), klik tombol scan pada Simple Scan dan tunggu hingga beberapa saat sampai komputer berhasil memindai objek secara keseluruhan. Berikut adalah hasil dari contoh scanning yang penulis lakukan:

scan

Sekian pada kesempatan kali ini, semoga ilmunya dapat bermanfaat. Keep in Linux and take Linux easy. Salam sobat TI.NET ^_^.

Konfigurasi SSH Server pada Debian 7 Wheezy

SSH Server atau Secure Shell merupakan sebuah protokol dalam jaringan yang memungkinkan komunikasi antara dua perangkat jaringan yang berbeda untuk melakukan pertukaran data atau hal lainnya secara aman (secure). Basis jaringan dari Secure Shell ini adalah client – server, dimana komputer client dimungkinkan untuk masuk ke dalam shell dari komputer server secara aman. Secara default port yang dibuka untuk sebuah SSH Server adalah port 22, dengan menggunakan port ini komputer client dapat masuk dan mengakses perintah secara leluasa. Sedangkan untuk masuk ke sebuah SSH Server yang terdapat dalam sebuah komputer server kita diperkenankan untuk melakukan autentifikasi berupa user dan password atau dengan menggunakan public key.

Pada kesempatan kali ini penulis akan coba bahas mengenai konfigurasi atau bagamana cara membangun SSH Server yang baik dan benar pada Debian 7 Wheezy, berikut langkah-langkahnya:
Login sebagai super user, lakukan update dan install aplikasi openssh

# apt-get update
# apt-get install openssh-server

Semua file konfigurasi sshd berada pada direktori /apt/ssh/. File sshd_config merupakan file kondifurasi sshd untuk server sedangkan ssh_config untuk client. Pada kesempatan kali ini coba kita batasai untuk sever terlebih dahulu.

Untuk tidak membiarkan super user atau root user dapat masuk langsung ke SSH Server pada komputer client (direkomendasikan) maka edit file sshd_config dan edit pada bagian Authentication:

# Authentication
LoginGraceTime 120
PermitRootLogin no
StrictModes yes

Keluar dari file konfigurasi dan simpan lalu restart SSH Server dengan perintah:

# service ssh restart

Untuk mengakses SSH Server, kita misalkan menggunakan aplikasi PuTTY pada komputer client (Windows), masukan IP Address komputer tujuan yang akan diakses beserta port yang digunakan (default port 22) lalu klik tombol Open. Lihat gambar untuk lebih jelasnya:
putty-login

putty-logged

Akan masuk ke home direktori dari user yang digunakan. Sampai disini SSH Server telah selesai dibangun dan dengan mengunakan normal user tadi kita dapat masuk sebagai root atau super user untuk akses yang lebih leluasa lagi. Sekian, mohon maaf apabila ada ketidakmengertiannya, semoga ilmu ini dapat bermanfaat. Selamat mencoba dan salam TI.NET ^_^

10 Situs Penyedia Temporary Mail

Temporary Mail atau Surat Sementara merupakan sebuah istilah dan ini menjadi booming untuk melakukan spamming, bukan berarti disini penulis memberi tahu tentang melakukan spamming dengan temporary mail. Hanya saja disini penulis akan sedikit berbagi secara lebih mendalam tentang apa itu temporary mail. Temporary mail digunakan untuk membuat sebuah alamat surel atau alamat email yang sifatnya hanya sementara dan secara random (acak), dan hal ini dihitung berdasarkan waktu yang telah ditetapkan, namun secara data memang sebuah temporary mail dapat diakui dan sah untuk penulisan sebuah alamat surel atau email. Dan hal tersebut tidak melanggar aturan tertentu.

Jadi intinya kamu bisa menggunakan temporary mail untuk keperluan apapun yang sifatnya sementara dan secara otomatis setiap pesan yang ada dalam sebuah temporary mail akan terhapus atau hilang dengan sendirinya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan lagi alamat email yang sudah digunakan tersebut juga akan ikut tidak aktif, inilah yang disebut dengan temporary mail. Mungkin disini kamu sendiri yang dapat menentukan apa segi positif dan negatif dari adanya sebuah jasa penyedia temporary mail yang gratis.

Berikut beberapa alamat dari situs penyedia jasa temporary mail secara gratis:
1. Guerrilla Mail
Link: https://www.guerrillamail.com/
2. Get Air Mail
Link: http://getairmail.com/
3. Temp Mail
Link: http://temp-mail.org/
4. 10 Minute Mail
Link: http://10minutemail.com/
5. Mailinator
Link: http://mailinator.com/
6. MintEmail
Link: http://www.mintemail.com/
7. Yopmail
Link: http://www.yopmail.com/en/
8. Incognito Mail
Link: http://www.incognitomail.com/
9. Tempmailer
Link: http://www.tempmailer.com/
10. FakeInbox
Link: http://www.fakeinbox.com/

Berikut hasil screenshoot dari percobaan mengirim email ke sebuah temporary mail, penulis pilih dari Temp Mail:
TempMail

Keterangan:
1. Pesan yang dikirim ke sebuah temporary mail
2. Alamat surel/email dari temporay mail yang dibuat
3. Waktu aktif alamat surel/email dari temporay mail yang dibuat

Konfigurasi Jaringan Client – Server dan Mikrotik

Pada dasarnya konektivitas dalam sebuah jaringan terbagi dua, yakni client – client atau biasa dikenal peer-to-peer dan client – server. Perbedaannya terletak dari konfigurasi ip address dan transfer data, pada jaringan peer-to-peer umumnya pengaturan ip address dilakukan static dan pada kelas serta subnneting yang sama dan transfer data dilakukan dengan cara sharing satu sama lainnya sedangkan pada jaringan client – server lebih luas lagi, bisa jadi server memberikan layanan DHCP untuk setiap client yang terhubung dalam jaringan dan memberikan pelayanan administrasi server yang lainnya seperti ftp, dns, samba, mail, dan sebagainya.

Pada kesempatan kali ini penulis akan coba berbagi mengenai simulasi jaringan client – server dimana element dari jaringan yang akan dibangun adalah koneksi internet, mikrotik router, server (linux debian), dan satu buah komputer client (windows xp). Dan dibawah ini simulasi atau gambaran dari jaringan yang akan dibuat:
Client-Mikrotik-Server

Sedikit deskripsi mengenai gambaran simulasi diatas, mula-mula koneksi internet dari modem masuk ke ether1 mikrotik dan mikrotik menerima ip address DHCP dari modem. Kemudian ether3 pada mikrotik disambungkan ke debian server dengan ip address 192.168.0.65/26 – 192.168.0.66/26 (ip debian server) kemudian ether2 pada mikrotik disambungkan ke windows client dengan ip address 192.168.0.1/26 – 192.168.0.2/26 (ip windows client) dengan demikian antara windows client dengan debian server dan mikrotik sudah satu segemen ip address pada kelas C dengan netmask address 255.255.255.192 yang artinya dalam jaringan diatas satu kelas C dibuat menjadi 4 broadcasting. Selanjutnya pengaturan firewall pada mikrotik untuk menghubungkan debian server dan windows client ke internet melalui ether1, sampai disini untuk deskripsi dan kita lanjutkan pada pengaturan masing-masing perangkat yang digunakan.

# Pengaturan Mikrotik

Untuk melakukan pengaturan pada mikrotik biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah tools baawannya, yakni winbox. Dengan menggunakan winbox kita dapat melakukan setting ulang mikrotik dengan mudah. Jadi kita sepakati pada tutorial kali ini kita menggunakan winbox sebagai tools untuk mengatur mikrotik. Berikut langkah-langkah pengerjaannya:

1. Masuk ke mikrotik dengan winbox sesuai user dan password yang telah dibuat, untuk pengaturan awal ketika kita menggunakan winbox yang akan muncul adalah MAC Address dengan ip address 0.0.0.0. Kita pilih MAC Addressnya lalu login, dan untuk itu komputer yang digunakan untuk mengaksesnya harus disetting dengan ip address static (sembarang pun tak masalah) dengan user “admin” tanpa tanda petik dan password kosong.

2. Masuk ke menu IP > DHCP Client untuk menerima IP Address DHCP dari modem dengan demikian dapat terhubung ke internet. Akan muncul kotak pengaturan DHCP Client, klik tombol tanda “+” warna merah kemudian pada bagian interface masukan ethernet yang digunakan (dalam kasus ini ether1) lalu klik tombol “Apply”. Akan secara otomatis menambahkan konfigurasi DHCP Client pada ether1, lihat gambar dibawah ini:
CS-DHCP-Clinet

3. Untuk memberikan IP Address pada ether2 dan ether3 buka menu IP > Addresses kemudian klik tombol tanda “+” setelah itu masukan konfigurasi IP Address yang telah direncanakan dan pilih ether2 lalu klik tombol “Apply”. Lihat gambar untuk lebih jelasnya:
CS-IP-ether2
Lakukan hal yang sama untuk konfigurasi IP Address pada ether3, berikut gambar jelasnya:
CS-IP-ether3

4. Pada artikel kali ini kita akan coba membuat sebuah DHCP Server untuk memberikan IP Address pada setiap komputer client, karena memang dalam standar jaringan memang sepatutnya seperti itu (setiap client meneria IP Address DHCP dari server). Masih dalam mikrotik masuk ke menu IP > DHCP Server kemudian klik tombol DHCP Setup, akan muncul jendela DHCP Setup dan disini kamu diminta untuk memasukan pada ethernet berapa akan diberikannya IP Address secara DHCP tersebut, karena dalam kasus ini komputer client terhubung ke mikrotik melalui ether2 maka kita pilih ether2 untuk akses DHCP Server lalu klik tombol “Next”.
CS-dhcp-setup-1

Pada tampilan jendela berikutnya kamu dimina memasukan network yang akan digunakan pada DHCP Server, kembali melihat konfigurasi IP Address yang telah disusun lalu sesuaikan dengan network pada ether2 mikrotik. Lihat gambar dibawah ini untuk lebih jelasnya lalu klik “Next” setelah selesai.
CS-dhcp-setup-2

Jendela berikutnya adalah jendela gateway, disini kamu diminta ketika nanti setelah setiap komputer client mendapatkan IP Address dari DHCP Server, IP Address mana yang akan dijadikan sebagai gateway, tetap ikuti contoh masukan IP Address sesuai dengan IP pada ether2 mikrotik.
CS-dhcp-setup-3

Jendela selanjutnya adalah range atau renggang IP Address yang akan diberikan pada setiap komputer client tentu hal ini harus satu segment pada satu kelas IP Address.
CS-dhcp-setup-4

Untuk jendela berikutnya adalah jendela DNS Server, secara otomatis akan terbentu DNS Server yang sama dengan yang diberikan modem atau internet, biarkan default dan klik tombol “Next”.
CS-dhcp-setup-5

Terakhir Lease Time biarkan secara default dan klik tombol “Next”.
CS-dhcp-setup-6

Selesai untuk DHCP Server.

5. Berikutnya pengaturan Firewall pada mikrotik, yang kita perlukan adalah menambahkan NAT Rule untuk setiap segment pada jaringan. Dengan demikian setiap komputer yang satu segemen atau katakanlah berada dalam jaringan tersebut dengan IP Address yang sesuai akan dapat mengakses internet dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Masuk ke menu IP > Firewall > tab NAT lalu klik tombol “+” pertama untuk ether2 terlebih dahulu yang mana kita gunakan sebagai jalur DHCP Server, dengan demikian kita perlu memasukan network id pada bagian Src. Address agar setiap komputer client dengan konfigurasi DHPC Server tersebut dapat ikut terhubung. Dan pada kolom Chain masukan srcnat itu untuk tab General. Sekarang masuk ke tab Action dan pilih masquerade setelah selesai klik tombol “Apply” lalu “Ok”.
CS-srcnat-1CS-srcnat-1a

Terakhir NET Rule untuk ether3 yakni yang terhubung pada pada komputer server. Masih tetap memasukan pilihan srcnat pada bagian Chain dan IP Address tujuan pada bagian Src. Address dalam kasus ini IP Address komputer Debian Server 192.168.0.66 lalu pada tab Action pilih opsi yang sama, yakni masquerade. Klik tombol “Apply” lalu klik “Ok”.
CS-srcnat-2CS-srcnat-2a

6. Selesai untuk pengaturan Mikrotik sampai disini.

# Pengaturan Windows Client

Pada pengaturan Windows Client kita tidak akan terlalu mendapatkan kesulitan karena kita hanya perlu menerima IP Address secara otomatis yang telah diberikan mikrotik tadi. Masuk ke pengaturan Network Connection, klik Start Button > Control Panel > Network Connection kamu akan melihat kartu jaringan yang aktif, sebelumnya buat disable terlebih dahulu supaya nantinya tidak terjadi error kemudian Klik Kanan > Properties > Internet Protocol (TCP/IP) > Properties > Obtain an IP address automatically > Obtain DNS server address automatically > Ok. Setelah selesai buat enable atau nyalakan kembali kartu jaringan yang tadi, bisa dilakukan dengan double click atau klik kanan > enable.
ip-windows-client

# Pengaturan Debian Server

Sama halnya pada Windows Client, kita dalam pengaturan Debian Server kali ini hanya melakukan konfigurasi untuk IP Address static agar bisa terhubung pada Mikrotik, jaringan, dan internet. Masuk atau login dengan super user atau root, edit file interfaces pada direktori /etc/network/ dengan perintah :
# nano /etc/network/interfaces

Untuk scriptnya bisa ikuti script dibawah ini yang sudah penulis sesuaikan dengan kondisi jaringan yang digunakan dalam tutorial ini :

# This file describes the network interfaces available on your system
# and how to activate them. For more information, see interfaces(5).

# The loopback network interface
auto lo
iface lo inet loopback

# The primary network interface
auto eth0
iface eth0 inet static
        address 192.168.0.66
        netmask 255.255.255.192
        network 192.168.0.64
        broadcast 192.168.0.127
        gateway 192.168.0.65
        # dns-* options are implemented by the resolvconf package, if installed
        dns-nameservers 192.168.0.65 192.168.0.66 8.8.8.8 8.8.4.4
        dns-search teknikinformatika.net

Restart konfigurasi interfaces dengan perintah:
#/etc/init.d/networking restart

Lihat hasil konfigurasi tadi dengan perintah :

ifconfig eth0
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr 08:00:27:79:38:1e
          inet addr:192.168.0.66  Bcast:192.168.0.127  Mask:255.255.255.192
          inet6 addr: fe80::a00:27ff:fe79:381e/64 Scope:Link
          UP BROADCAST RUNNING MULTICAST  MTU:1500  Metric:1
          RX packets:112 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
          TX packets:235 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
          collisions:0 txqueuelen:1000
          RX bytes:12927 (12.6 KiB)  TX bytes:23777 (23.2 KiB)

Beres untuk pengaturan IP Address pada Debian Server tahap selanjutnya adalah uji jaringan dengan PING.

# Pengujian Jaringan

Setelah selesai dengan semua konfigurasi jaringan dari mulai konfigurasi untuk Mikrotik, Windows Client, serta Debian Server kini tiba saatnya kita melakukan uji coba atas konfigurasi yang telah dilakukan. Disini kita akan coba melakukannya dengan perintah PING.

PING dari Windows Client ke IP Mikrotik ether2

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping 192.168.0.1

Pinging 192.168.0.1 with 32 bytes of data:

Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=6ms TTL=64
Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=3ms TTL=64

Ping statistics for 192.168.0.1:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 2ms, Maximum = 6ms, Average = 3ms

PING dari Windows Client ke IP Mikrotik ether3

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping 192.168.0.65

Pinging 192.168.0.65 with 32 bytes of data:

Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=1ms TTL=64
Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=3ms TTL=64

Ping statistics for 192.168.0.65:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 1ms, Maximum = 3ms, Average = 2ms

PING dari Windows Client ke IP Debian Server

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping 192.168.0.66

Pinging 192.168.0.66 with 32 bytes of data:

Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=9ms TTL=63
Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=7ms TTL=63
Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=5ms TTL=63
Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=3ms TTL=63

Ping statistics for 192.168.0.66:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 3ms, Maximum = 9ms, Average = 6ms

PING dari Windows Client ke www.google.co.id

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping www.google.co.id

Pinging www.google.co.id [118.98.111.35] with 32 bytes of data:

Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=48ms TTL=125
Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=46ms TTL=125
Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=47ms TTL=125
Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=42ms TTL=125

Ping statistics for 118.98.111.35:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 42ms, Maximum = 48ms, Average = 45ms

Dari hasil perintah uji jaringan tersebut kita dapat simpulkan jika konfigurasi yang kita lakukan sejauh ini telah berhasil pada Windows Client.

PING dari Debian Server ke IP Mikrotik ether3

sandimulyadi@tinet:~$ ping 192.168.0.65 -c 4
PING 192.168.0.65 (192.168.0.65) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=1 ttl=64 time=2.09 ms
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=2 ttl=64 time=2.56 ms
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=3 ttl=64 time=4.03 ms
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=4 ttl=64 time=3.56 ms

--- 192.168.0.65 ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 received, 0% packet loss, time 3005ms
rtt min/avg/max/mdev = 2.094/3.063/4.031/0.771 ms

PING dari Debian Server ke IP Mikrotik ether2

sandimulyadi@tinet:~$ ping 192.168.0.1 -c 4
PING 192.168.0.1 (192.168.0.1) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=1 ttl=64 time=2.26 ms
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=2 ttl=64 time=1.94 ms
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=3 ttl=64 time=2.11 ms
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=4 ttl=64 time=3.72 ms

--- 192.168.0.1 ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 received, 0% packet loss, time 3007ms
rtt min/avg/max/mdev = 1.943/2.510/3.725/0.711 ms

PING dari Debian Server ke www.google.co.id

sandimulyadi@tinet:~$ ping www.google.co.id -c 4
PING www.google.co.id (118.98.30.98) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=1 ttl=61 time=44.5 ms
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=2 ttl=61 time=46.7 ms
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=3 ttl=61 time=134 ms
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=4 ttl=61 time=46.1 ms

--- www.google.co.id ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 received, 0% packet loss, time 3004ms
rtt min/avg/max/mdev = 44.503/68.081/134.900/38.587 ms

Dilihat dari hasil perintah uji coba jaringan dengan perintah PING diatas menunjukan bahwa jaringan juga sudah dapat berjalan dengan normal tanpa kendala juga pada Debian Server. Dengan demikian dapat dikatakan jika konfigurasi yang telah kita lakukan ini sudah berhasil sejauh ini.

Sekian untuk tutorial pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kekurangjelasan selama penulisan keterangan atau tulisan dalam artikel ini. Stay connected and salam TI.NET ^_^.

Cara Merubah Default Penampilan Lampiran Gambar di WordPress

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Sesuai judul diatas pada artikel kali ini penulis akan membahas mengenai WordPress, yakni tentang Attachment Image (Lampiran Gambar) pada posting di WordPress. Terkadang kita dengan CMS WordPress memiliki masalah dengan lampiran gambar yang disertakan pada setiap postingan, dari mulai link ke gambar, ukuran, dan posisi penampilan gambar dan kita tentu harus melakukannya satu-persatu, masalahnya disini adalah bagaimana jika gambar yang ingin kita lampiran jumlahnya banyak dan pengaturan defaultnya tidak sesuai yang diinginkan.??? Tentu kita harus mengeditnya satu-persatu dan itu akan memakan waktu yang cukup lama, dengan demikian solusi dari masalah tersebut diatas adalah kita ubah default untuk pengaturan attachment image atau pelampiran gambarnya.

Cukup sederhana untuk melakukannya, yang kita perlukan adalah beberapa baris script dan itu bisa kamu salin disini, dan berikut scrpitnya:

/* Insert Media - Attachment Display Settings */
function mytheme_setup() {
	// Set default values for the upload media box
	update_option('image_default_align', 'left | center | right' );
	update_option('image_default_link_type', 'none | post | image' );
	update_option('image_default_size', 'small | medium | large' );

}
add_action('after_setup_theme', 'mytheme_setup');

Tempel script tersebut diatas kedalam file functions.php pada tema WordPress yang kamu gunakan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan masuk ke bagian Dashboard Admin > Appeareance > Editor > Theme Functions (functions.php). Dan sekarang penjelasan mengenai ketiga opsi penampilan default gambar pada postingan WordPress:

  1. update_option(‘image_default_align’, ‘left | center | right’ );
    Script ini untuk mengatur rataan gambar; left untuk kiri, center untuk rata tengan, dan right untuk rata kanan, pilih salah satu dari ketiga pilihan rataan tersebut.
  2. update_option(‘image_default_link_type’, ‘none | post | image’ );
    Script ini untuk mengatur tautan terhadap gambar yang bersangkutan; none untuk tidak melakukan tautan, post untuk tautan alamat gambar, dan image untuk tautan di media file, pilih salah satu opsinya.
  3. update_option(‘image_default_size’, ‘small | medium | large’ );
    Script ini digunakan untuk besar gambar yang akan ditampilkan dalam posting dan mengikuti ukuran gambar yang diunggah sebagai defaultnya. Pilih salah satu dari ketiga pilihan ukuran yang diberikan.

Setelah selesai menempelkan (paste) script diatas ke dalam file functions.php simpan konfigurasi dengan meng-klik tombol Update File. Dan sekarang lihat perubahannya.

Sekian dari penulis yang bisa disampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan salam TI.NET ^_^.

Apa itu Windows.old

Mungkin diantara kamu ada yang di Local Disk atau System Drive (C:)nya sebuah folder yang namanya Windows.old.??? Apa itu Windows.old.??? Koq ukurannya besar yah, hingga sampai 1 GB lebih.??? Mungkin pertanyaan tersebut akan terlontar dibenak kamu yang belum mengetahui apa itu Windows.old.

Jadi apa itu Windows.old.??? Windows.old (berupa folder) akan muncul atau terbentuk secara otomatis atau dengan dirinya ketika misalnya saat ini kamu menggunakan Windows 7 dan sebelumnya telah terinstall Windows XP dan kamu tidak memformat Local Disk atau System Disk (C:)nya. Pada saat proses installasi akan ada suatu tahap yang menjelaskan jika proses installasi dilanjutkan maka sistem Windows yang sebelumnya (Windows XP untuk Windows 7 dan Windows 7 untuk Windows 8, dan begitu seterusnya) akan tersimpan secara otomatis di Local Disk atau System Drive (C:). Namun hal tersebut tidak akan terjadi jika kamu melakukan format di Local Disk (C:)nya, guna dari adanya Windows.old ini adalah untuk menyimpan semua data yang ada di Drive (C:). Tentu ini sangat dibutuhkan sebagai backup yang tidak repot sama sekali.

Intinya Windows.old akan terbentuk jika versi dari Windows yang sekarang kamu gunakan lebih baru dari versi sebelumnya, sebelum kamu install ulang. Sekali lagi penulis tegaskan jika Windows.old tidak akan terbentuk jika kamu memformati habis Local Disk (C:) tempat kamu menaruh Dirve untuk installasi sistem Windows sebelumnya.???

Jadi sekarang sudah pahamkan apa itu Windows.old.??? Tahu seberapa penting Windows.old bagi kita.??? Semoga artikel pada kesempatan kali ini berguna untuk sobat TI.NET sekalian. Mohon maaf apabila terdapat salah-salah kata yang kurang berkenan. Salam TI.NET ^_^

 

Konfigurasi NTP Clients di Debian 7 Wheezy

Network Time Protocol (NTP) atau Protokol Waktu Jaringan merupakan sebuah fasilitas dalam dunia administrasi server yang memudahkan setiap komputer yang terhubung ke jaringan memiliki pengaturan pembaharuan waktu secara otomatis sesuai dengan waktu yang ditunjukan oleh server. Sehingga setiap waktu yang dimiliki oleh komputer-komputer klient akan sama dengan waktu yang telah ditetapkan oleh server.

Pada kesempatan kali ini penulis akan berbagi mengenai cara pengkonfigurasian NTP Clients di Debian 7 Wheezy. Yang perlu kamu tahu, ada sebuah server khusus yang didalamnya telah dipasang pengaturan untuk management waktu, dimana setiap orang dibebaskan untuk mengaksesnya dan mengsinkronkan pengaturan waktunya. Situsnya dapat kamu akses di http://www.pool.ntp.org/ dan untuk melihat server yang aktif untuk waktu wilayah khusus Indonesia bisa kamu lihat di http://www.pool.ntp.org/zone/id.

Berikut merupakan langkah-langkah yang harus kamu ikuti untuk melakukan Konfigurasi NTP Clients di Debian 7 Wheezy :

1. Untuk melihat waktu sekarang kamu bisa memasukan perintah seperti dibawah ini

root@sm-pc:/home/sandimulyadi# date -R
Fri, 24 Jan 2014 13:37:50 +0700

2. Lakukan update repositori terlebih dahulu sebelum melakukan installasi sebuah software

# apt-get update

Untuk yang menggunakan CD repositori masukan perintah dibawah ini lalu masukan CD repositorinya

# apt-cdrom add
# apt-get update

3. Install paket software NTP dengan perintah

# apt-get install ntp

4. Lakukan konfigurasi file ntp.conf yang berada pada direktori /etc

# nano /etc/ntp.conf

5. Cari dan masukan script dibawah ini untuk wilayah khusus Indonesia

server 0.id.pool.ntp.org iburst
server 1.id.pool.ntp.org iburst
server 2.id.pool.ntp.org iburst
server 3.id.pool.ntp.org iburst

6. Setelah selesai restart NTP dengan perintah

# service ntp restart

7. Lihat waktu sekarang dengan perintah seperti pada nomor 1 dan lihat perbedaannya. Kini waktu telah disesuaikan dengan server http://www.pool.ntp.org/

root@sm-pc:/home/sandimulyadi# date -R
Fri, 24 Jan 2014 06:41:00 +0700

Membangun LAMP di Debian

Apa itu LAMP.??? LAMP merupakan kependekan dari Linux Apache MySQL PHP yang mana fungsinya adalah sebagai sebuah layanan yang memungkinkan kita melakukan pengolahan server berbasis Apache, MySQL dan PHP. Dengan membangun LAMP ini kedepanya kita akan mampu membangun sebuah situs dari sisi server atau sering dikatakan server side. Pada artikel kali ini penulis akan coba menjelaskan mengenai hal apa saja yang dibutuhkan serta bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membangun sebuah LAMP di Debian. Continue reading