Sudo Debian

Sudo atau SUper-user DO adalah sebuah program yang diciptakan untuk memberikan hak akses lebih (hampir sama dengan superuser) pada beberapa user agar mampu mengeksekusi program sebagai root. Alasan kenapa kita perlu akan sudo ini adalah karena sudo lebih baik serta lebih aman daripada kita masuk ke sistem sebagai root langsung.
Beberapa alasan lainnya adalah: 1. Semua orang tidak perlu password root karena sudo akan meminta hanya password user saja. Hak istimewa lebih dapat dibuat secara sementara atau temporari tanpa perlunya perubahan password. 2. Sangat memudahkan user untuk menggunakan hak istimewa melaui sudo dan karena sebagai user biasa maka dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan karena kesalahan. 3. Auditing/logging, ketika sebuah sudo dieksekusi, maka pengguna dan perintah yang bersangkutan saja yang berkaitan dengan sudo tersebut.
Berikut cara menambahkan user pada sudo:

# adduser <nama user> sudo

Setelah user ditambahkan pada grup sudo maka kamu perlu keluar atau logout dari sistem terlebih dahulu untuk mendapatkan perubahan dari sistem terhadap user yang bersangkutan tersebut setelah itu kamu masuk kembali dengan user yang sudah ditambahkan tersebut. Sekarang user yang bersangkutan tersebut telah siap mengeksekusi program dengan sudo.
Berikut tampilan pertama kali jika kamu mulai mengeksekusi program dengan perintah sudo:

We trust you have received the usual lecture from the local System
Administrator. It usually boils down to these three things:
    #1) Respect the privacy of others.
    #2) Think before you type.
    #3) With great power comes great responsibility.
[sudo] password for sandimulyadi:

Konfigurasi untuk sudo juga dapat diatur pada file /etc/sudoers atau direktori /etc/sudoers.d/

Cara Menambahkan Tombol Minimize dan Maximize di Debian 8 Jessie

Hallo sobat TI.NET, apa kabar.??? Pada kesempatan sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana cara mengupgrade ke Debian 8 Jessie. Jika kamu ingin melihatnya bisa buka link berikut ini http://www.teknikinformatika.net/2015/05/14/upgrade-debian-wheezy-ke-jessie/. Salah satu permasalahan dari Debian 8 Jessie, secara default setiap jendela aplikasi tidak disertai dengan tombol maximize dan minimize bukan.??? Nah, maka dari itu penulis akan membahas cara menampilkan tombol minimize dan maximis di Debian 8 Jessie.

Tanpa panjang lebar lagi berikut adalah langkah-langkahnya:

Main Menu > System Tools > dconf Editor

atau

$ sudo dconf-editor

Setelah jendela dconf Editor terbuka masuk tab berikut:

org > desktop > wm > preferences > button-layout

Secara default button-layout berisi appmenu:close ganti menjadi appmenu:minimize,maximize,close. Selesai sampai disini semoga bermanfaat dan berhasil. Salam TI.NET ^.^.

Upgrade Debian Wheezy ke Jessie

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Setelah beberapa minggu yang lalu penulis update berita tentang Debian yang baru saja rilis ke versi 8 Jessie, pada kesempatan kali ini penulis akan bahas mengenai cara bagaimana mengupgrade dari Debian versi 7 Wheezy ke Debian versi 8 Jessie. Sebelum melakukan upgrading, penulis sarankan agar kamu menyalin atau membackup semua file penting yang ada di komputer. Setelah itu, pastikan koneksi internet kamu sedang dalam keadaan stabil, terkoneksi, cepat, dan tersisa banyak quota (bagi pengguna modem berquota).

Jika semua persiapan sudah ada sekarang kita langsung ke tahap upgrading.
1. Upgrade Sistem Wheezy
Sebelum mengupgrade ke Jessie, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengupgrade Wheezy terlebih dahulu. Berikut perintahnya:

$ sudo apt-get update
$ sudo apt-get upgrade
$ sudo apt-get dist-upgrade

2. Upgrade ke Debian Jessie
Yang perlu kamu lakukan adalah menambahkan repositori Debian Jessie atau lelbih tepatnya mengganti repositoru Wheezy ke Jessie.

$ sudo sed -i 's/wheezy/jessie/g' /etc/apt/sources.list

Berikut lengkapnya:

deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie main contrib non-free
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie main contrib non-free

deb http://kambing.ui.ac.id/debian-security/ jessie/updates main contrib non-fr$
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian-security/ jessie/updates main contrib no$

deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie-updates main contrib non-free
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie-updates main contrib non-free
$ sudo apt-get update
$ sudo apt-get upgrade
$ sudo apt-get dist-upgrade

3. Restart Komputer
Setela semua proses update dan upgrade selesai dengan sempurna tanpa kendala, langkah terakhir adalah dengan merestart atau reboot komputer.

$ sudo apt-get reboot

Periksa status upgrade dengan perintah:

$ sudo hostnamectl

Static hostname: smpc
Icon name: computer-laptop
Chassis: laptop
Machine ID: 32980230b426aee1c36fa276553a318d
Boot ID: d863f2cdbe304f1eacd75efd5db48c74
Operating System: Debian GNU/Linux 8 (jessie)
Kernel: Linux 3.16.0-4-686-pae
Architecture: x86

Terlihat jika penulis telah berhasil melakukan upgrading ke Debian 8 Jessie, semoga beruntung dan salam TI.NET ^.^.

Debian 8 Jessie Telah di Rilis

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Pada pagi hari yang cerah ini penulis akan berbagi kabar gembira untuk kita semua. Terlebih khusus kamu yang menggunakan Linux sebagai sistem operasi dasar komputer dan juga Debian. Kenapa dan ada apa dengan Debian.??? Yups, dua hari yang lalu lebih tepatnya tanggal 25 April 2015 secara resmi Debian merilis versi terbarunya atau Debian versi 8 Jessie. Tentu ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan bukan bagi penggiat Debian 🙂

Bagi kamu yang sudah tidak sabar lagi ingin segera mencobanya silakan menuju link berikut untuk mengunduhnya https://www.debian.org/distrib/ untuk panduan installasinya bisa lihat di link berikut ini https://www.debian.org/releases/jessie/installmanual

Sekian dari penulis semoga kabar ini benar-benar membahagiakan. Salam TI.NET ^.^. Sumber berita bisa liat pada link berikut https://bits.debian.org/2015/04/jessie-released.html.

Konfigurasi SSH Server pada Debian 7 Wheezy

SSH Server atau Secure Shell merupakan sebuah protokol dalam jaringan yang memungkinkan komunikasi antara dua perangkat jaringan yang berbeda untuk melakukan pertukaran data atau hal lainnya secara aman (secure). Basis jaringan dari Secure Shell ini adalah client – server, dimana komputer client dimungkinkan untuk masuk ke dalam shell dari komputer server secara aman. Secara default port yang dibuka untuk sebuah SSH Server adalah port 22, dengan menggunakan port ini komputer client dapat masuk dan mengakses perintah secara leluasa. Sedangkan untuk masuk ke sebuah SSH Server yang terdapat dalam sebuah komputer server kita diperkenankan untuk melakukan autentifikasi berupa user dan password atau dengan menggunakan public key.

Pada kesempatan kali ini penulis akan coba bahas mengenai konfigurasi atau bagamana cara membangun SSH Server yang baik dan benar pada Debian 7 Wheezy, berikut langkah-langkahnya:
Login sebagai super user, lakukan update dan install aplikasi openssh

# apt-get update
# apt-get install openssh-server

Semua file konfigurasi sshd berada pada direktori /apt/ssh/. File sshd_config merupakan file kondifurasi sshd untuk server sedangkan ssh_config untuk client. Pada kesempatan kali ini coba kita batasai untuk sever terlebih dahulu.

Untuk tidak membiarkan super user atau root user dapat masuk langsung ke SSH Server pada komputer client (direkomendasikan) maka edit file sshd_config dan edit pada bagian Authentication:

# Authentication
LoginGraceTime 120
PermitRootLogin no
StrictModes yes

Keluar dari file konfigurasi dan simpan lalu restart SSH Server dengan perintah:

# service ssh restart

Untuk mengakses SSH Server, kita misalkan menggunakan aplikasi PuTTY pada komputer client (Windows), masukan IP Address komputer tujuan yang akan diakses beserta port yang digunakan (default port 22) lalu klik tombol Open. Lihat gambar untuk lebih jelasnya:
putty-login

putty-logged

Akan masuk ke home direktori dari user yang digunakan. Sampai disini SSH Server telah selesai dibangun dan dengan mengunakan normal user tadi kita dapat masuk sebagai root atau super user untuk akses yang lebih leluasa lagi. Sekian, mohon maaf apabila ada ketidakmengertiannya, semoga ilmu ini dapat bermanfaat. Selamat mencoba dan salam TI.NET ^_^

Konfigurasi Network Time Protocol di Debian 7 Wheezy

Network Time Protocol atau biasa disingkat NTP merupakan sebuah protokol yang digunakan untuk melakukan sinkronisasi waktu dari antar komputer dengan sistem komputer yang bisa disesuaikan dengan wilayah atau daerah dimana waktu tersebut diambil (zona waktu / time zone).

Dengan adanya sistem komputer yang mengatur waktu kita dapat jadikan hal tersebut sebagai patokan komputer server kita mengambil waktu secara otomatis dari sistem komputer tersebut secara online dengan demikian kita juga dapat menyebarkannya (sinkronisasi) dengan komputer client. Dengan demikian waktu antara komputer client, server dan waktu dunia (sesuai zona waktu) akan sama.

Pada kesempatan kali ini penulis akan coba membahas mengenai Konfigurasi NTP Server pada Debian 6 Wheezy dimana deskripsinya adalah sebagai berikut: NTP Pool Project merupakan sebuah proyek sinkronisasi waktu dunia, disana terdapat sistem komputer yang dijadikan pusat jam dunia (salah satu) yang memberikan akses untuk setiap komputer. Setelah kita mendapatkan update waktu dari NTP Pool Project yang telah sinkron dengan komputer Server, kemudian dari komputer server tersebut diolah untuk disebarkan kepada setiap komputer client. Untuk lebih jelas kamu harus memahami terlebih dahulu mengenai konsep jaringan lokal yang penulis tulis pada artikel yang berjudul Konfigurasi Client – Server dan Mikrotik (klik).

Berikut konfigurasi NTP Server pada Debian 7 Wheezy:
Install paket ntp dan ntpdate dengan cara:

# apt-get update
# apt-get install ntp ntpdate

File konfigurasi ntp berada pada direktori /etc/ yang bernama ntp.conf, ini merupakan file konfigurasi tunggal. Edit file tersebut dengan perintah:

# nano /etc/ntp.conf

Kita misalkan ambil pool zone dari NTP Pool Project untuk wilayah Indonesia, yakni:

server 0.id.pool.ntp.org
server 1.id.pool.ntp.org
server 2.id.pool.ntp.org
server 3.id.pool.ntp.org

Kode yang harus kita masukan adalah:

# You do need to talk to an NTP server or two (or three).
server 192.168.0.66 // IP Debian Server

# pool.ntp.org maps to about 1000 low-stratum NTP servers. Your server will
# pick a different set every time it starts up. Please consider joining the
# pool: <http://www.pool.ntp.org/join.html>
server 0.id.pool.ntp.org iburst // Pool Zone Indonesia
server 1.id.pool.ntp.org iburst // Pool Zone Indonesia
server 2.id.pool.ntp.org iburst // Pool Zone Indonesia
server 3.id.pool.ntp.org iburst // Pool Zone Indonesia

# Clients from this (example!) subnet have unlimited access, but only if
# cryptographically authenticated.
restrict 192.168.0.0 mask 255.255.255.192 nomodify notrap nopeer // Untuk setiap komputer client

Setelah selesai dengan file ntp.conf, jangan lupa simpan konfigurasi tersebut dengan kombinasi tombol CTRL + X lalu Y dan ENTER.

Restart NTP dengan cara:

# service ntp restart

Test hasil konfigurasi pada Debian Server dengan perintah ntpq -p, lihat hasil dibawah ini:

# ntpq -p


Selesai dengan Debian Server sekarang kita beralih ke Windows Client, asumsikan komputer client menggunakan sistem operasi Windows XP. Pada bagian desktop, terlihat waktu (pojok kanan bawah), klik kanan > Adjust Date/Time > Muncul jendela batu klik tab Internet Time > Pada bagian Server masukan alamat server (192.168.0.66) > Update Now. Akan memakan waktu beberapa saat untuk ketika sinkronisasi. Lihat gambar dibawah ini setelah komputer client berhasil melakukan sinkronisasi waktu dengan komputer server.

ntp-client-windows

Selesai sampai disini, semoga dapat dimengerti dan mudah-mudahan bermanfaat ilmunya mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam artikelnya. Salam TI.NET ^_^.

Konfigurasi Jaringan Client – Server dan Mikrotik

Pada dasarnya konektivitas dalam sebuah jaringan terbagi dua, yakni client – client atau biasa dikenal peer-to-peer dan client – server. Perbedaannya terletak dari konfigurasi ip address dan transfer data, pada jaringan peer-to-peer umumnya pengaturan ip address dilakukan static dan pada kelas serta subnneting yang sama dan transfer data dilakukan dengan cara sharing satu sama lainnya sedangkan pada jaringan client – server lebih luas lagi, bisa jadi server memberikan layanan DHCP untuk setiap client yang terhubung dalam jaringan dan memberikan pelayanan administrasi server yang lainnya seperti ftp, dns, samba, mail, dan sebagainya.

Pada kesempatan kali ini penulis akan coba berbagi mengenai simulasi jaringan client – server dimana element dari jaringan yang akan dibangun adalah koneksi internet, mikrotik router, server (linux debian), dan satu buah komputer client (windows xp). Dan dibawah ini simulasi atau gambaran dari jaringan yang akan dibuat:
Client-Mikrotik-Server

Sedikit deskripsi mengenai gambaran simulasi diatas, mula-mula koneksi internet dari modem masuk ke ether1 mikrotik dan mikrotik menerima ip address DHCP dari modem. Kemudian ether3 pada mikrotik disambungkan ke debian server dengan ip address 192.168.0.65/26 – 192.168.0.66/26 (ip debian server) kemudian ether2 pada mikrotik disambungkan ke windows client dengan ip address 192.168.0.1/26 – 192.168.0.2/26 (ip windows client) dengan demikian antara windows client dengan debian server dan mikrotik sudah satu segemen ip address pada kelas C dengan netmask address 255.255.255.192 yang artinya dalam jaringan diatas satu kelas C dibuat menjadi 4 broadcasting. Selanjutnya pengaturan firewall pada mikrotik untuk menghubungkan debian server dan windows client ke internet melalui ether1, sampai disini untuk deskripsi dan kita lanjutkan pada pengaturan masing-masing perangkat yang digunakan.

# Pengaturan Mikrotik

Untuk melakukan pengaturan pada mikrotik biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah tools baawannya, yakni winbox. Dengan menggunakan winbox kita dapat melakukan setting ulang mikrotik dengan mudah. Jadi kita sepakati pada tutorial kali ini kita menggunakan winbox sebagai tools untuk mengatur mikrotik. Berikut langkah-langkah pengerjaannya:

1. Masuk ke mikrotik dengan winbox sesuai user dan password yang telah dibuat, untuk pengaturan awal ketika kita menggunakan winbox yang akan muncul adalah MAC Address dengan ip address 0.0.0.0. Kita pilih MAC Addressnya lalu login, dan untuk itu komputer yang digunakan untuk mengaksesnya harus disetting dengan ip address static (sembarang pun tak masalah) dengan user “admin” tanpa tanda petik dan password kosong.

2. Masuk ke menu IP > DHCP Client untuk menerima IP Address DHCP dari modem dengan demikian dapat terhubung ke internet. Akan muncul kotak pengaturan DHCP Client, klik tombol tanda “+” warna merah kemudian pada bagian interface masukan ethernet yang digunakan (dalam kasus ini ether1) lalu klik tombol “Apply”. Akan secara otomatis menambahkan konfigurasi DHCP Client pada ether1, lihat gambar dibawah ini:
CS-DHCP-Clinet

3. Untuk memberikan IP Address pada ether2 dan ether3 buka menu IP > Addresses kemudian klik tombol tanda “+” setelah itu masukan konfigurasi IP Address yang telah direncanakan dan pilih ether2 lalu klik tombol “Apply”. Lihat gambar untuk lebih jelasnya:
CS-IP-ether2
Lakukan hal yang sama untuk konfigurasi IP Address pada ether3, berikut gambar jelasnya:
CS-IP-ether3

4. Pada artikel kali ini kita akan coba membuat sebuah DHCP Server untuk memberikan IP Address pada setiap komputer client, karena memang dalam standar jaringan memang sepatutnya seperti itu (setiap client meneria IP Address DHCP dari server). Masih dalam mikrotik masuk ke menu IP > DHCP Server kemudian klik tombol DHCP Setup, akan muncul jendela DHCP Setup dan disini kamu diminta untuk memasukan pada ethernet berapa akan diberikannya IP Address secara DHCP tersebut, karena dalam kasus ini komputer client terhubung ke mikrotik melalui ether2 maka kita pilih ether2 untuk akses DHCP Server lalu klik tombol “Next”.
CS-dhcp-setup-1

Pada tampilan jendela berikutnya kamu dimina memasukan network yang akan digunakan pada DHCP Server, kembali melihat konfigurasi IP Address yang telah disusun lalu sesuaikan dengan network pada ether2 mikrotik. Lihat gambar dibawah ini untuk lebih jelasnya lalu klik “Next” setelah selesai.
CS-dhcp-setup-2

Jendela berikutnya adalah jendela gateway, disini kamu diminta ketika nanti setelah setiap komputer client mendapatkan IP Address dari DHCP Server, IP Address mana yang akan dijadikan sebagai gateway, tetap ikuti contoh masukan IP Address sesuai dengan IP pada ether2 mikrotik.
CS-dhcp-setup-3

Jendela selanjutnya adalah range atau renggang IP Address yang akan diberikan pada setiap komputer client tentu hal ini harus satu segment pada satu kelas IP Address.
CS-dhcp-setup-4

Untuk jendela berikutnya adalah jendela DNS Server, secara otomatis akan terbentu DNS Server yang sama dengan yang diberikan modem atau internet, biarkan default dan klik tombol “Next”.
CS-dhcp-setup-5

Terakhir Lease Time biarkan secara default dan klik tombol “Next”.
CS-dhcp-setup-6

Selesai untuk DHCP Server.

5. Berikutnya pengaturan Firewall pada mikrotik, yang kita perlukan adalah menambahkan NAT Rule untuk setiap segment pada jaringan. Dengan demikian setiap komputer yang satu segemen atau katakanlah berada dalam jaringan tersebut dengan IP Address yang sesuai akan dapat mengakses internet dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Masuk ke menu IP > Firewall > tab NAT lalu klik tombol “+” pertama untuk ether2 terlebih dahulu yang mana kita gunakan sebagai jalur DHCP Server, dengan demikian kita perlu memasukan network id pada bagian Src. Address agar setiap komputer client dengan konfigurasi DHPC Server tersebut dapat ikut terhubung. Dan pada kolom Chain masukan srcnat itu untuk tab General. Sekarang masuk ke tab Action dan pilih masquerade setelah selesai klik tombol “Apply” lalu “Ok”.
CS-srcnat-1CS-srcnat-1a

Terakhir NET Rule untuk ether3 yakni yang terhubung pada pada komputer server. Masih tetap memasukan pilihan srcnat pada bagian Chain dan IP Address tujuan pada bagian Src. Address dalam kasus ini IP Address komputer Debian Server 192.168.0.66 lalu pada tab Action pilih opsi yang sama, yakni masquerade. Klik tombol “Apply” lalu klik “Ok”.
CS-srcnat-2CS-srcnat-2a

6. Selesai untuk pengaturan Mikrotik sampai disini.

# Pengaturan Windows Client

Pada pengaturan Windows Client kita tidak akan terlalu mendapatkan kesulitan karena kita hanya perlu menerima IP Address secara otomatis yang telah diberikan mikrotik tadi. Masuk ke pengaturan Network Connection, klik Start Button > Control Panel > Network Connection kamu akan melihat kartu jaringan yang aktif, sebelumnya buat disable terlebih dahulu supaya nantinya tidak terjadi error kemudian Klik Kanan > Properties > Internet Protocol (TCP/IP) > Properties > Obtain an IP address automatically > Obtain DNS server address automatically > Ok. Setelah selesai buat enable atau nyalakan kembali kartu jaringan yang tadi, bisa dilakukan dengan double click atau klik kanan > enable.
ip-windows-client

# Pengaturan Debian Server

Sama halnya pada Windows Client, kita dalam pengaturan Debian Server kali ini hanya melakukan konfigurasi untuk IP Address static agar bisa terhubung pada Mikrotik, jaringan, dan internet. Masuk atau login dengan super user atau root, edit file interfaces pada direktori /etc/network/ dengan perintah :
# nano /etc/network/interfaces

Untuk scriptnya bisa ikuti script dibawah ini yang sudah penulis sesuaikan dengan kondisi jaringan yang digunakan dalam tutorial ini :

# This file describes the network interfaces available on your system
# and how to activate them. For more information, see interfaces(5).

# The loopback network interface
auto lo
iface lo inet loopback

# The primary network interface
auto eth0
iface eth0 inet static
        address 192.168.0.66
        netmask 255.255.255.192
        network 192.168.0.64
        broadcast 192.168.0.127
        gateway 192.168.0.65
        # dns-* options are implemented by the resolvconf package, if installed
        dns-nameservers 192.168.0.65 192.168.0.66 8.8.8.8 8.8.4.4
        dns-search teknikinformatika.net

Restart konfigurasi interfaces dengan perintah:
#/etc/init.d/networking restart

Lihat hasil konfigurasi tadi dengan perintah :

ifconfig eth0
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr 08:00:27:79:38:1e
          inet addr:192.168.0.66  Bcast:192.168.0.127  Mask:255.255.255.192
          inet6 addr: fe80::a00:27ff:fe79:381e/64 Scope:Link
          UP BROADCAST RUNNING MULTICAST  MTU:1500  Metric:1
          RX packets:112 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
          TX packets:235 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
          collisions:0 txqueuelen:1000
          RX bytes:12927 (12.6 KiB)  TX bytes:23777 (23.2 KiB)

Beres untuk pengaturan IP Address pada Debian Server tahap selanjutnya adalah uji jaringan dengan PING.

# Pengujian Jaringan

Setelah selesai dengan semua konfigurasi jaringan dari mulai konfigurasi untuk Mikrotik, Windows Client, serta Debian Server kini tiba saatnya kita melakukan uji coba atas konfigurasi yang telah dilakukan. Disini kita akan coba melakukannya dengan perintah PING.

PING dari Windows Client ke IP Mikrotik ether2

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping 192.168.0.1

Pinging 192.168.0.1 with 32 bytes of data:

Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=6ms TTL=64
Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.1: bytes=32 time=3ms TTL=64

Ping statistics for 192.168.0.1:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 2ms, Maximum = 6ms, Average = 3ms

PING dari Windows Client ke IP Mikrotik ether3

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping 192.168.0.65

Pinging 192.168.0.65 with 32 bytes of data:

Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=1ms TTL=64
Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=2ms TTL=64
Reply from 192.168.0.65: bytes=32 time=3ms TTL=64

Ping statistics for 192.168.0.65:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 1ms, Maximum = 3ms, Average = 2ms

PING dari Windows Client ke IP Debian Server

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping 192.168.0.66

Pinging 192.168.0.66 with 32 bytes of data:

Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=9ms TTL=63
Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=7ms TTL=63
Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=5ms TTL=63
Reply from 192.168.0.66: bytes=32 time=3ms TTL=63

Ping statistics for 192.168.0.66:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 3ms, Maximum = 9ms, Average = 6ms

PING dari Windows Client ke www.google.co.id

C:\Documents and Settings\Sandi Mulyadi>ping www.google.co.id

Pinging www.google.co.id [118.98.111.35] with 32 bytes of data:

Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=48ms TTL=125
Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=46ms TTL=125
Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=47ms TTL=125
Reply from 118.98.111.35: bytes=32 time=42ms TTL=125

Ping statistics for 118.98.111.35:
    Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
    Minimum = 42ms, Maximum = 48ms, Average = 45ms

Dari hasil perintah uji jaringan tersebut kita dapat simpulkan jika konfigurasi yang kita lakukan sejauh ini telah berhasil pada Windows Client.

PING dari Debian Server ke IP Mikrotik ether3

sandimulyadi@tinet:~$ ping 192.168.0.65 -c 4
PING 192.168.0.65 (192.168.0.65) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=1 ttl=64 time=2.09 ms
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=2 ttl=64 time=2.56 ms
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=3 ttl=64 time=4.03 ms
64 bytes from 192.168.0.65: icmp_req=4 ttl=64 time=3.56 ms

--- 192.168.0.65 ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 received, 0% packet loss, time 3005ms
rtt min/avg/max/mdev = 2.094/3.063/4.031/0.771 ms

PING dari Debian Server ke IP Mikrotik ether2

sandimulyadi@tinet:~$ ping 192.168.0.1 -c 4
PING 192.168.0.1 (192.168.0.1) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=1 ttl=64 time=2.26 ms
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=2 ttl=64 time=1.94 ms
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=3 ttl=64 time=2.11 ms
64 bytes from 192.168.0.1: icmp_req=4 ttl=64 time=3.72 ms

--- 192.168.0.1 ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 received, 0% packet loss, time 3007ms
rtt min/avg/max/mdev = 1.943/2.510/3.725/0.711 ms

PING dari Debian Server ke www.google.co.id

sandimulyadi@tinet:~$ ping www.google.co.id -c 4
PING www.google.co.id (118.98.30.98) 56(84) bytes of data.
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=1 ttl=61 time=44.5 ms
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=2 ttl=61 time=46.7 ms
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=3 ttl=61 time=134 ms
64 bytes from 98.subnet118-98-30.astinet.telkom.net.id (118.98.30.98): icmp_req=4 ttl=61 time=46.1 ms

--- www.google.co.id ping statistics ---
4 packets transmitted, 4 received, 0% packet loss, time 3004ms
rtt min/avg/max/mdev = 44.503/68.081/134.900/38.587 ms

Dilihat dari hasil perintah uji coba jaringan dengan perintah PING diatas menunjukan bahwa jaringan juga sudah dapat berjalan dengan normal tanpa kendala juga pada Debian Server. Dengan demikian dapat dikatakan jika konfigurasi yang telah kita lakukan ini sudah berhasil sejauh ini.

Sekian untuk tutorial pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kekurangjelasan selama penulisan keterangan atau tulisan dalam artikel ini. Stay connected and salam TI.NET ^_^.

Install ClamAV di Debian

Linux dan AntiVirus, mungkin sobat TI.NET sekalian jarang mendengar atau asing mendengar kalimat yang menyangkut-pautkan antara Linux dengan AntiVirus atau bahkan sobat TI.NET sudah memiliki pemahaman mengapa di Linux tidak terdengar adanya keluhan akan serangan virus komputer. Namun jangan berangkapan jika Linux sudah benar-benar aman dari serangan virus, di Linuxpun ada yang namanya AntiVirus, logikanya jika ada sebuah AntiVirus untuk Linux berarti ada donk virusnya, benar gak.???

Salah satu AntiVirus yang terkenal di Linux adalah ClamAV, AVG for Linux dan Avast for Linux. Salah satu alasan mengapa virus jarang menyerang pengguna Linux adalah pengguna Linux itu sangat minim sekali, kurang dari 10% orang di dunia yang menggunakan Linux, jadi apa untungnya membuat virus Linux.??? Positifnya dari kita menginstall AntiVirus di Linux adalah kita bisa membersihkan media penyimpanan (untuk Windows misalnya) tanpa sistem Linux kita akan terkena virusnya. Kamupun juga bisa buka jasa pembersihan media penyimpanan seperti flashdisk contohnya, bagi pengguna windows. Lumayan dapat bisa dapet rupiah tuh dari situ.

Pada kesempatan kali ini penulis hanya akan fokus pada salah satu AntiVirus saja, ClamAV adalah pilihannya. Mengapa ClamAV.??? Sebagian besar pengguna Linux menggunakan ClamAV untuk keamanan sistem mereka, alasan lainnya adalah mudah digunakan dan sangat user friendly. Berikut adalah langkah-lagkah praktis dalam melakukan installasi ClamAV :

Buka terminal atau console sebagai super user atau root

Install ClamAV dengan memasukan perintah

# apt-get install clamav

Tunggu beberapa saat hingga proses installasi selesai. Setelah itu masukan perintah dibawah ini untuk memperbaharui database virus ClamAV

# freshclam

Setelah semua update selesai, kini kamu sudah bisa menggunakan ClamAV. Lakukan quick scanning dengan perintah dibawah ini

$ clamscan <direktori>

Output dari scanning yang penulis lakukan (contoh)

----------- SCAN SUMMARY -----------
Known viruses: 3233585
Engine version: 0.97.8
Scanned directories: 1
Scanned files: 0
Infected files: 0
Data scanned: 0.00 MB
Data read: 0.00 MB (ratio 0.00:1)
Time: 35.885 sec (0 m 35 s)

Sedangkan untuk melakukan full scanning masukan perintah dibawah ini

$ clamscan -r <nama file atau direktori>

Sekian yang dapat penuli sampaikan semoga bermanfaat dan salam TI.NET ^_^

Set Default X Session Manager di Debian

Hi sobat TI.NET apa kabar.??? Pada kesempatan kali ini penulis akan berbagi masih soal yang menyangkut Debian. Sebelum lebih jauh lagi, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu X Session Manager. X Session Manager merupakan sebuah sistem pengaturan session atau sesi dimana ia dapat menyimpan dan mengembalikan keadaan keseluruhan dari aplikasi yang sedang dijalankan pada saat itu juga. Setiap shell sistem tentu memilikinya seperti GNOME dan KDE.

Dalam kasus ini penulis menggunakan sistem shell GNOME, jadi hanya akan penulis beri contoh untuk GNOME saja. Apa fungsi kita mengatur default X Session Manager ini.??? Ketika kita hendak masuk ke desktop kita, saat pertama muncul adalah jendela login dan pemilihan X Session yang akan kita gunakan, seperti contoh GNOME dan GNOME-Classic. Ketika pertama kali kita melakukan installasi sistem debian yang sudah dibundle dengan shell GNOME, kita akan menemukan GNOME sebagai X Session default, nah disini kita akan dapat menggantikan X Session default tersebut dengan yang lainnya, dalam kasus ini penulis gunakan GNOME-Classic karena penulis lebih suka tampilan yang minimalis namun elegant.

Tanpa panjang lebar lagi silakan ikuti langkah-langkah berikut ini :

Buka terminal atau console dan masuk sebagai super user atau root

Masukan perintah dibawah ini untuk membuka jendela pemilihan X Session default

# update-alternatives --config x-session-manager

Akan muncul tampilan seperti dibawah ini

There are 2 choices for the alternative x-session-manager (providing /usr/bin/x-session-manager).
Selection      Path                             Priority   Status
----------------------------------------------------------------------
  0            /usr/bin/gnome-session            50        auto mode
  1            /usr/bin/gnome-session            50        manual mode
* 2            /usr/bin/gnome-session-fallback   40        manual mode
Press enter to keep the current choice[*], or type selection number: 2

Disana kamu dapat melihat pada bagian “Selection”, yang ada tanda bintang “*” merupakan X Session yang dijadikan default (dalam kasus ini /usr/bin/gnome-session-fallback), pada bagian “type selection number:” masukan nomor dari GNOME Session yang ingin kamu jadikan default dan dalam kasus ini ada tiga dua pilihan, yakni “Selection 1” dan “Selection 2”, “Selection 0” tidak digunakan karena itu hanya sebagai auto mode saja.

Setelah selesai dengan pemilihan GNOME Session diatas, sekarang kamu restart komputer dan lihat apa hasilnya. X Session yang akan muncul secara default adalah X Session yang kamu pilih tadi.

Sekian dari penuli semoga bermanfaat, selamat mencoba dan semoga berhasil. Salam TI.NET ^_^

Disable GNOME DESKTOP MANAGER (GDM) di Debian

Hallo sobat TI.NET apa kabar.??? Di malam hari yang disertai hujan ini penulis akan sedikit berbagi nih, masih tetap tentang Debian tentunya. Jika kamu sudah bosan dengan tampilan Desktop atau Graphical User Interface di Debian, penulis tawarkan nih cara untuk men-disable-kan tampilan Desktop atau GUI Debian kamu. Namun jangan khawatir, jika kamu ingin kembali mengaksesnya (tampilan GUI) bisa dengan memasukan perintah startx.

Maksud lain dari penulis adalah agar pada saat komputer dengan sistem operasi Debian yang kamu pakai pertama kali dihidupkan, komputer tidak akan langsung masuk ke halaman login pada mode Desktop atau GUI melainkan masuk kedalam sebuah tampilan login pada terminal atau mode Command Line Interface. Masih bingung.??? Mending ikuti langkah-langkah berikut ini untuk lebih jelasnya lagi.

Masuk ke terminal atau console dan masuk sebagai super user atau root

Setelah itu masukan perintah dibawah ini untuk men-disable-kan GDM atau GNOME DESKTOP MANAGER (penulis menggunakan GNOME versi 3 atau gdm3) sehingga perintah yang penulis masukan adalah sebagai berikut

# update-rc.d gdm3 disable

Dengan begitu ketika komputer kamu pertama kali dihidupkan, komputer tidak akan masuk ke tampilan login Desktop melainkan diarahkan untuk masuk ke mode CLI terlebih dahulu. Untuk melihat hasil dari peng-disable-an tersebut masukan perintah reboot untuk menghidupkan ulang komputermu dengan perintah.

# reboot

Setelah muncul tampilan login mode CLI kamu hanya tinggal login menggunakan user dan password yang kamu gunakan. Dan jika ingin masuk atau membuka mode Desktop atau GUI kembali, masukan perintah berikut

# startx

Perlu juga diperhatikan, jika kamu login pada mode CLI menggunakan super user atau root, maka ketika kamu memasukan perintah startx kamu juga akan masuk sebagai super user atau root pada mode GUI begitupun sebaliknya (normal user).

Kemudian jika kamu ingin kembali meng-enable-kan tampilan GUI sebgai tampilan default sistem Debian kamu, masukan perintah dibawah ini dengan status sebagai super user atau root

# update-rc.d gdm3 enable

Sekian dari penulis semoga bermanfaat dan selamat mencoba, semoga berhasil. Salam TI.NET ^_^